Diskusi : Mengapa Presentasi Week End Harus 13?

Sembari menunggu kedatangan rombongan WE IV @ bonaventura saat maltup hr minggu kemarin, saya sempat ngobrol2 dengan Tante Susan (@-ers bona masih memanggil tante, krn Ibu Susan msh belum resmi menjadi mami di Bona, tapi msh dlm tahap penjajagan tapi juga sudah ikut WE :) ). beliau adalah orang yg ckp aktif dlm berbagai pelayanan di Paroki Bonaventura, dan juga memiliki keingintahuan yg cukup kuat tentang @ :)

ada beberapa poin yg sempat kami diskusikan, antara lain bagaimana evaluasi team saat ini dengan harapan masa datang, bagaimana menciptakan team yang saling mendengar, bagaimana susunan acara WE, bagaimana konsep rekon, dsb. ada 2 hal yng menarik dan ingin saya bawa ke forum ini... yaitu tentang Rekon dan jumlah presentasi.

Sebagai orang yg biasa ikut retreat dan jg menjadi pengajar komuni pertama, tante merasa 13 presentasi terlalu banyak dan kenapa ga beberapa presentasi digabung? (hal yang sama jg pernah ditanyakan Rm Ary, Pr...pendamping @ gading periode 2007-2009). Di satu sisi, memang ini sebuah "standard" yg ditetapkan oleh Antiokhia Nasional (seperti diangkat pada Pernas terakhir di Wisma Canossa, 2003), tapi di sisi lain ada pandangan "kenapa paroki harus terpaku dengan kesepakatan itu? bukankah keadaan tiap paroki berbeda2?" atau ada pandangan yg muncul juga "kenapa ga presentasi2 ini ada yang digabung krn saling berhubungan satu sama lain? sehingga ada waktu yang cukup bagi peserta dan team untuk melakukan hal lain?"

Diskusi dengan tante Susan (dan jg mengangkat obrolan yg dulu pernah dilakukan dengan Rm Ary), saya bilang, "memang @ itu ga berhenti sampai WE saja, tapi juga kesempurnaannya ada pada pelayanan, termasuk menjadi team di WE dan menjadi presenter...bayangkan kalau ada 13 presentasi dalam WE dibawakan oleh 13 pasang pria+wanita, maka setiap kali WE kita mampu "memaksa" (baca:  mendorong) 26 orang untuk berani tampil percaya diri berbicara menyampaikan sesuatu kepada banyak orang...bukankah itu sesuatu yang baik dan berguna? Ini adalah hal yang tidak ditemukan di retreat lain, seperti SHB misalnya...saya pernah ikut SHB tahun 2003 dan SHB tahun 2006, pembicara2 di 2 SHB itu adalah orang yang sama, kan itu menunjukkan tidak terjadi regenerasi pembicara". Juga di lain obrolan ttg presentasi ini, saya bilang "Memang kalau kita melihat angka 13-nya, itu adalah angka yang sangat banyak...tapi sebenernya presentasi2 WE itu hanya berbicara ttg 3 hal : Batu Karang (Kt. Pengantar, Panggilan Allah, Gambar Diri Gambar Allah, R. Doa, R. Hidup adalah Penyerahan), Salib (Karya Kristus, Menjadi Umat Kristen, Persekutuan Umat Kristen, Gereja & Dunia, R. Ekaristi, dan puncaknya adalah Rekonsiliasi), dan Bunga Mawar (Misi atau Pengutusan, Mengikuti Kristus, dan Bekerja untuk Kristus). Adalah tugas team dan presenter untuk selalu menekankan makna 3 lambang itu pada presentasinya dengan menjaga kesinambungan antar materi presentasi. Kalau kita sukses menekankan 3 hal itu, maka di mata peserta akan terlihat hanya seperti 3 presentasi bukan 13 presentasi".

Tapi dia pun memberi usulan2 untuk menggabungkan beberapa presentasi, seperti pernah juga dia usulkan dan lakukan di pengajaran komuni pertama di bonaventura...seperti Panggilan Allah+Gambar Diri Gambar Allah, R. Doa + R. Hidup adalah Penyerahan, Menjadi Umat Kristen+Persekutuan Umat Kristen, Mengikuti Kristus+Bekerja utk Kristus.

Nah...tentang hal ini...bagaimanakah tanggapan teman2 / papi+mami / Romo ? bolehkah kita melakukan beberapa perubahan yg menyesuaikan dgn kebutuhan paroki masing2 yang penting esensi WE terjaga? atau haruskah kita tetap berpegang pada aturan yang telah disepakati? mohon sharing2 yah :)

Tentang Rekon :
dia bilang, berangkat dr pengalamannya di Gereja Kristen (sebelumnya beliau beragama Kristen, ckp fanatik, sbelum pindah ke Katolik sekarang)...dia berpandangan bahwa saat Rekon adalah saat yang sangat baik bagi kita (peserta + team) untuk memiliki waktu khusus yang sangat panjang untuk berdoa secara pribadi, merenung dan menyesali serta mengakui segala kesalahan kepada Tuhan sebelum menerima sakramen pengakuan dosa (bila ada romo, atau dengan cara pembakaran kertas).
Sebagai evaluasi pribadi atas cara yang dilakukan oleh @ bona kemarin, dia mengaku terkesan pada saat Pra Rekon, ketika dibawakan lagu2 yg menyentuh hati, ada peserta yang sangat masuk dalam suasananya (ada yang menangis dan ada jg yg berbahasa roh), dia bermaksud membawakan dan menjadikan saat pra rekon itu sebagai waktu untuk langsung berdoa secara pribadi dalam renungan-renungan tanpa banyak kata, tapi bisa meresap dalam hati (hal yang sama pernah saya alami ketika ikut SHBDR di PDKK St Yakobus)... tapi setelah berdiskusi dengan team, tidak jadi..karena mungkin team jg telah menyiapkan materi ibadat rekonsiliasi.

Nah berangkat dari sini, saya jadi merenung dan berpikir... sejauh yang saya alamin pernah ngeteam di beberapa WE @ (gading, bonaventura, sunter, blok q, kemakmuran)..rata2 memiliki cara ibadat rekonsiliasi yang sama...yaitu duduk merenung dalam kapel dengan peserta mendengarkan renungan yang dibawakan oleh team (dengan sebagian besar berupa kata2 atau display video seperti Dong Haeng, Passion of Christ, dsb) lalu dilanjutkan dengan pengakuan dosa sambil menunggu dalam hening dan menyanyikan lagu taize...

hal yg ckp berbeda (dengan esensi yang sama : pemeriksaan batin) pernah saya alami (dan mungkin itu yg pernah dialami si tante jg) ketika SHBDR (seminar hidup baru dalam roh)...di satu sisi, memang terasa lebih menyentuh ketika di SHBDR, di mana kita bisa berdoa begitu lama sesuai kebutuhan hati kita, merenung tanpa harus konsentrasi mendengar banyak kata, dan mendengar lagu2 / musik yang menyentuh hati (dan jg bagi orang yang memiliki karunia nubuat, bisa membantu menyampaikan kata2 sapaan Tuhan pada beberapa pribadi)...tapi yah di sisi lain...belum tentu semua orang bisa menerima gaya "kharismatik", dan dr yg pernah saya diskusikan dengan Papi Bas, meditasi / suasana hening (plus renungan dalam lagu2 taize) lebih baik digunakan saat ibadat rekonsiliasi.

Pertanyaannya : bolehkah seandainya dengan esensi yang sama, kita berikan banyak kesempatan pada peserta WAKTU untuk merenung secara pribadi, terutama dengan bantuan renungan2 singkat dan lagu2 yang menyentuh, atau bila ada Team yang memiliki karunia bernubuat, bisa membantu juga melayani dengan karunianya, memimpin di depan? atau sebaiknya kita tetap melakukan pola yang sama dengan biasanya? atau mungkin ada alternatif lain sebagai cara melakukan ibadat rekonsiliasi? Hal ini cukup menarik buat saya (walau sudah tidak terlibat aktif lagi dalam perkembangan komunitas Antiokhia), karena Rekonsiliasi adalah saat yang sangat berharga bagi tiap pribadi untuk memperbaiki hubungannya dengan sesama dan Tuhan (seperti lambang Trinitas : segitiga sama sisi saya, sesama, dan Tuhan).

mohon sharing2 pendapat dari teman2, papi+mami, Romo yah :)

 

WRITER


Pijoes Santoso, Kegiatan gua kini hanya seputar mengajar les, koor paroki st yakobus, koor wilayah st ursula, BIA Gereja St Yakobus, BIA Paroki St Yakobus, Antiokhia St Yakobus, Mudika Regional 2 Paroki St Yakobus, Ichtus Band, dan masih banyak lagi. Senang bermain musik walau ga jago2 amat... memiliki kesenangan bermain gitar rhytm dan bass, senang menggenjreng gitar sampe orang2 di sekitar gua takut senarnya putus (herannya pas dipake maen tu senar ga putus, sesudah dimainin jadi putus hehe)... Sedang mencari pasangan hidup yang BERANI NAIK ANGKOT, penyabar, jujur, sederhana, murah hati, dan bisa memahami gua apa adanya karena gua tidak suka diatur tapi gua akan merubah diri gua sendiri klo memang gua rasa itu perlu utk menjalin hub dengan lebih baik lagi... lagipula... tiada yang sempurna dalam hidup ini...


sembari menunggu kedatangan rombongan WE IV @ bonaventura saat maltup hr minggu kemarin, saya sempat ngobrol2 dengan Tante Susan (@-ers bona masih memanggil tante, krn Ibu Susan msh belum resmi menjadi mami di Bona, tapi msh dlm tahap penjajagan tapi juga sudah ikut WE :) ). beliau adalah orang yg ckp aktif dlm berbagai pelayanan di Paroki Bonaventura, dan juga memiliki keingintahuan yg cukup kuat tentang @ :)

ada beberapa poin yg sempat kami diskusikan, antara lain bagaimana evaluasi team saat ini dengan harapan masa datang, bagaimana menciptakan team yang saling mendengar, bagaimana susunan acara WE, bagaimana konsep rekon, dsb. ada 2 hal yng menarik dan ingin saya bawa ke forum ini... yaitu tentang Rekon dan jumlah presentasi.

Sebagai orang yg biasa ikut retreat dan jg menjadi pengajar komuni pertama, tante merasa 13 presentasi terlalu banyak dan kenapa ga beberapa presentasi digabung? (hal yang sama jg pernah ditanyakan Rm Ary, Pr...pendamping @ gading periode 2007-2009). Di satu sisi, memang ini sebuah "standard" yg ditetapkan oleh Antiokhia Nasional (seperti diangkat pada Pernas terakhir di Wisma Canossa, 2003), tapi di sisi lain ada pandangan "kenapa paroki harus terpaku dengan kesepakatan itu? bukankah keadaan tiap paroki berbeda2?" atau ada pandangan yg muncul juga "kenapa ga presentasi2 ini ada yang digabung krn saling berhubungan satu sama lain? sehingga ada waktu yang cukup bagi peserta dan team untuk melakukan hal lain?"

Diskusi dengan tante Susan (dan jg mengangkat obrolan yg dulu pernah dilakukan dengan Rm Ary), saya bilang, "memang @ itu ga berhenti sampai WE saja, tapi juga kesempurnaannya ada pada pelayanan, termasuk menjadi team di WE dan menjadi presenter...bayangkan kalau ada 13 presentasi dalam WE dibawakan oleh 13 pasang pria+wanita, maka setiap kali WE kita mampu "memaksa" (baca:  mendorong) 26 orang untuk berani tampil percaya diri berbicara menyampaikan sesuatu kepada banyak orang...bukankah itu sesuatu yang baik dan berguna? Ini adalah hal yang tidak ditemukan di retreat lain, seperti SHB misalnya...saya pernah ikut SHB tahun 2003 dan SHB tahun 2006, pembicara2 di 2 SHB itu adalah orang yang sama, kan itu menunjukkan tidak terjadi regenerasi pembicara". Juga di lain obrolan ttg presentasi ini, saya bilang "Memang kalau kita melihat angka 13-nya, itu adalah angka yang sangat banyak...tapi sebenernya presentasi2 WE itu hanya berbicara ttg 3 hal : Batu Karang (Kt. Pengantar, Panggilan Allah, Gambar Diri Gambar Allah, R. Doa, R. Hidup adalah Penyerahan), Salib (Karya Kristus, Menjadi Umat Kristen, Persekutuan Umat Kristen, Gereja & Dunia, R. Ekaristi, dan puncaknya adalah Rekonsiliasi), dan Bunga Mawar (Misi atau Pengutusan, Mengikuti Kristus, dan Bekerja untuk Kristus). Adalah tugas team dan presenter untuk selalu menekankan makna 3 lambang itu pada presentasinya dengan menjaga kesinambungan antar materi presentasi. Kalau kita sukses menekankan 3 hal itu, maka di mata peserta akan terlihat hanya seperti 3 presentasi bukan 13 presentasi".

Tapi dia pun memberi usulan2 untuk menggabungkan beberapa presentasi, seperti pernah juga dia usulkan dan lakukan di pengajaran komuni pertama di bonaventura...seperti Panggilan Allah+Gambar Diri Gambar Allah, R. Doa + R. Hidup adalah Penyerahan, Menjadi Umat Kristen+Persekutuan Umat Kristen, Mengikuti Kristus+Bekerja utk Kristus.

Nah...tentang hal ini...bagaimanakah tanggapan teman2 / papi+mami / Romo ? bolehkah kita melakukan beberapa perubahan yg menyesuaikan dgn kebutuhan paroki masing2 yang penting esensi WE terjaga? atau haruskah kita tetap berpegang pada aturan yang telah disepakati? mohon sharing2 yah :)

Tentang Rekon :
dia bilang, berangkat dr pengalamannya di Gereja Kristen (sebelumnya beliau beragama Kristen, ckp fanatik, sbelum pindah ke Katolik sekarang)...dia berpandangan bahwa saat Rekon adalah saat yang sangat baik bagi kita (peserta + team) untuk memiliki waktu khusus yang sangat panjang untuk berdoa secara pribadi, merenung dan menyesali serta mengakui segala kesalahan kepada Tuhan sebelum menerima sakramen pengakuan dosa (bila ada romo, atau dengan cara pembakaran kertas).
Sebagai evaluasi pribadi atas cara yang dilakukan oleh @ bona kemarin, dia mengaku terkesan pada saat Pra Rekon, ketika dibawakan lagu2 yg menyentuh hati, ada peserta yang sangat masuk dalam suasananya (ada yang menangis dan ada jg yg berbahasa roh), dia bermaksud membawakan dan menjadikan saat pra rekon itu sebagai waktu untuk langsung berdoa secara pribadi dalam renungan-renungan tanpa banyak kata, tapi bisa meresap dalam hati (hal yang sama pernah saya alami ketika ikut SHBDR di PDKK St Yakobus)... tapi setelah berdiskusi dengan team, tidak jadi..karena mungkin team jg telah menyiapkan materi ibadat rekonsiliasi.

Nah berangkat dari sini, saya jadi merenung dan berpikir... sejauh yang saya alamin pernah ngeteam di beberapa WE @ (gading, bonaventura, sunter, blok q, kemakmuran)..rata2 memiliki cara ibadat rekonsiliasi yang sama...yaitu duduk merenung dalam kapel dengan peserta mendengarkan renungan yang dibawakan oleh team (dengan sebagian besar berupa kata2 atau display video seperti Dong Haeng, Passion of Christ, dsb) lalu dilanjutkan dengan pengakuan dosa sambil menunggu dalam hening dan menyanyikan lagu taize...

hal yg ckp berbeda (dengan esensi yang sama : pemeriksaan batin) pernah saya alami (dan mungkin itu yg pernah dialami si tante jg) ketika SHBDR (seminar hidup baru dalam roh)...di satu sisi, memang terasa lebih menyentuh ketika di SHBDR, di mana kita bisa berdoa begitu lama sesuai kebutuhan hati kita, merenung tanpa harus konsentrasi mendengar banyak kata, dan mendengar lagu2 / musik yang menyentuh hati (dan jg bagi orang yang memiliki karunia nubuat, bisa membantu menyampaikan kata2 sapaan Tuhan pada beberapa pribadi)...tapi yah di sisi lain...belum tentu semua orang bisa menerima gaya "kharismatik", dan dr yg pernah saya diskusikan dengan Papi Bas, meditasi / suasana hening (plus renungan dalam lagu2 taize) lebih baik digunakan saat ibadat rekonsiliasi.

Pertanyaannya : bolehkah seandainya dengan esensi yang sama, kita berikan banyak kesempatan pada peserta WAKTU untuk merenung secara pribadi, terutama dengan bantuan renungan2 singkat dan lagu2 yang menyentuh, atau bila ada Team yang memiliki karunia bernubuat, bisa membantu juga melayani dengan karunianya, memimpin di depan? atau sebaiknya kita tetap melakukan pola yang sama dengan biasanya? atau mungkin ada alternatif lain sebagai cara melakukan ibadat rekonsiliasi? Hal ini cukup menarik buat saya (walau sudah tidak terlibat aktif lagi dalam perkembangan komunitas Antiokhia), karena Rekonsiliasi adalah saat yang sangat berharga bagi tiap pribadi untuk memperbaiki hubungannya dengan sesama dan Tuhan (seperti lambang Trinitas : segitiga sama sisi saya, sesama, dan Tuhan).

mohon sharing2 pendapat dari teman2, papi+mami, Romo yah :)

blog comments powered by Disqus
 

Koordinator Distrik Jakarta

Koordinator Distrik Jakarta untuk periode 2013 - 2015 di pegang oleh Ingram Lumanta dan Alexandrina Vicky. Saat ini didukung oleh tim yang berisi dengan orang-orang yang penuh dengan semangat. Dan kami masih mengharapkan ada lagi teman-teman antiokhers yang tertarik dan berkomitmen bergabung bersama kami mengembangkan cinta dan rasa dalam Antiokhia.


Ingram LumantaIngram Lumanta
Antiokhers asal paroki Bunda Maria (BM) Cirebon. Mengenal antiokhia sejak akhir 2006, jadi titik awal pelayanan. Sempat menjadi tim WEA BM 2-5 lalu menuruskan pelayanan di distrik jakarta. Senang untuk terus mengenal orang-orang baru. Saat ini sibuk menjadi karyawan di salah satu perbankan.


Alexandrina VickyAlexandrina Vicky
Bergabung dengan keluarga besar Antiokhia mulai dari WeekEnd Besar VI paroki MKK (2005). Dan sejak itu  mengagumi sekali kebersamaan dan kekeluargaan dalam Antiokhia. Setelah itu sempat menjadi koordinator paroki tahun 2009-2012. Kesibukan saat ini adalah sebagai Behavioral Therapist untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

.

What is Antiokhia?

Kata Antiokhia berasal dari nama sebuah kota di ASia Kecil di mana Gereja Perdana lahir. Jadi gerakan Antiokhia ini mengambil teladan Gereja Perdana. Week End adalah ujung tombak penyebaran dan pembinaan untuk kaum muda supaya mau membuka dan membekali diri dengan bekal rohani yang mendalam untuk menjadi garam dan terang dunia. Antiokhia merupakan kelompok kategorial berbasis paroki yang mengambil bagian dalam pelayanan gereja lewat gerakan pembinaan iman dan kepribadian kaum muda. [readmore]

.

Get Updates!